Yugi Prayanto (tengah). PALAPA POS/Istimewa

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyatakan fundamental ekonomi nasional saat ini masih kuat namun pemerintah perlu lebih meningkatkan ekspor guna mengatasi sejumlah permasalahan seperti defisit neraca perdagangan.

"Kondisi ekonomi masih berada dalam posisi yang terkendali," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto di Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Menurut dia, pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai faktor ekonomi yang mempengaruhinya, seperti pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga. Selain itu, ia juga mengemukakan bahwa tingkat inflasi juga dinilai cukup stabil pada posisi yang relatif rendah.

Namun, lanjutnya, terdapat juga risiko yang berasal dari dinamika perekonomian yang dinilai perlu untuk mendapatkan perhatian lebih besar.

"Indonesia juga perlu menjaga cadangan devisa serta meningkatkan ekspor," paparnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kemitraan ekonomi dengan berbagai negara melalui perjanjian perdagangan atau kemitraan ekonomi komprehensif dinilai menjadi peluang meningkatkan ekspor.

Menperin melalui keterangannya di Jakarta, Senin (24/12/2018), menyatakan, pihaknya tengah mendorong peningkatan ekspor oleh industri yang memiliki kelebihan kapasitas karena telah mampu memenuhi pasar domestik.

Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah sektor yang sedang dipacu antara lain adalah industri makanan dan minuman serta industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Sebagaimana diwartakan pemerintah dinilai perlu mendorong kinerja industri nonpertambangan karena selama ini ekspor yang dilakukan lebih banyak bergantung kepada sumber daya alam yang mentah dan cenderung tidak bernilai tambah.

"Pemerintah perlu mendorong tumbuhnya industri non-ekstraktif yang berdaya saing di pasar internasional," kata Peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman.

Menurut dia, dengan mendorong tumbuhnya industri nonekstraktif, diharapkan akan mendorong diversifikasi ekspor. Dengan demikian, lanjutnya, neraca perdagangan ke depannya tidak akan bergantung kepada komoditas alam yang tren harganya cenderung fluktuatif. (ant)

Comments

Leave a Comment

Berita Lainnya

Perseroda Akui Setor Deviden Tahun 2022 Sebesar 300 Juta

KOTA BEKASI - PT. Minyak dan Gas Bumi (Perseroda) hari ini, Kamis (6/4/2023) mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atas kinerja Tahun Anggaran 2022 dihadiri oleh Plt. Wa

Era Transaksi Digital, Satika Minta Pelaku UMKM Taput Jaga Branding

TAPANULI UTARA - PT Bank Sumut Cabang Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menggelar sosialisasi produk perbankan dan sekaligus menyerahan Quick Response Code Indonesia

Electrolux Showroom dan Service Center Hadir di Kota Bekasi

BEKASI - Memberikan kenyamanan kepada konsumen, Electrolux Showroom dan Service Center hadir di Kota Bekasi.  Dipastika kehadirannya untuk konsumen setelah diresmikan kan

Harga Minyak Goreng Belum Stabil, Wakil Gubernur Jawa Barat Sidak Di Kota Bekasi

BEKASI - Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar), UU Ruzhanul Ulum lakukan Inspeksi mendadak (Sidak) pasar di Kota Bekasi memantau harga minyak goreng yang belum lama mencapai Rp 20

Mampu Pulihkan Ekonomi, Bupati Taput Dapat Penghargaan dari BI

TAPANULI UTARA - Dinilai mampu mengatasi keterpurukan dan mampu memulihkan ekonomi ditengah Pandemi Covid-19, Bupati Taput Nikson Nababan mendapat penghargaan program Klaster K

Bank Dunia Suntik Indonesia Rp5,6 Triliun

JAKARTA - Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pendanaan sebesar 400 juta dolar AS atau sekitar Rp5,6 triliun untuk mengatasi kerentanan keuangan akibat dampak pandemi Covid-19.